?>
?>
?>
?>
?>
?>
?>
?>
?>


Seolah sebatas jarak spasi antara senang dan sedih
Di tengah ramai tak jarang rasa sepi
Jika bahagia itu kota ku berada di tepi Dan masih ku tanya ke diri dan teman
Apa yang sekarang sudah bisa dibilang senang ?
Ataukah tak sadar kalau aku cuma rasa nyaman
Di simpang antara rasa kecewa dan rasa tenang
Sering kali ku paksa pajang senyuman
mereka tanya kabar aku jawab “Baik Puji Tuhan”
Tak jarang fungsi mentari’pun ikut hilang
Seolah ku dalam gelap walau hari masih siang
Apa mungkin kini aku buta rasa “Punya mata namun tak bisa pandangi hidup nyata”
Apa mungkin ku tetesi air mata “Namun tak sadar karna hujan sedang basahi wajah”
(Lelah) aku pakai topeng untuk tutup kesedihan
(Lelah) pura pura ramai untuk tutup kesepian
(Lelah) bertarung dengan waktu demi kepastian Lelah masih lelah ini lelah …(yang kesekian !!!! )
Sering bercengkrama dengan rasa ragu Masa depan takan indah sperti puisi atau lagu
Saat teman lain sukses lalu angkat dagu Mreka sapa dengan sinis (“hey bro kapan maju”)
Hidupku mendung tak pernah muncul pelangi Tapi syukur ku kencangkan keluhan aku pelani
Rasa sakit ku tanam seolah petani Bahagia ku panen nanti dengan dia yang temani
Masih percaya …
tiap peristiwa (Jadi proses biar tak sombong saat ku kaya) Ku berupaya… tak lain supaya…
(Kelak pelangi ganti hujan derita haleluya)
]]>Maria Th.Roslin S.Lana
Jauh sebelum pandemic corona, setiap matahari terbit, doa, permohonan, dan impian selalu menjadi teman terbaik seorang pria paruh baya. Jauh sebelum konsep new normal lahir, doa, harapan, dan impiannya pria itu dedikasikan kepada keluarga kecilnya. Jauh sebelum saya mulai menulis ini, dia yang kusapa ayah, tak lebih dari kenagan dan inspirasi, hubungan kami paling intim saat ini adalah saling mendoakan, selebihnya, entalah.
Pada saat yang bersamaan, banyak para ahli matematika moral yang selalu mempertanyakan pekerjaan, jabatan, penghasilan, dan umur hanya untuk menghitung seberapa besar penghormatan yang akan diberikan kepada objek yang ditanya. Itulah kita, manusia yang selalu mempersoalkan homo sapiens. Pada planet yang sama, saya terpojok oleh realita, bahwa saya tak punya apa yang diinginkan peradaban zaman sekarang. Detik-detik itu kemudian tiba-tiba muncul kembali dalam ingatan saya, percakapan anak berusia delapan tahun bersama ayahnya.
“Bapa, kenapa bapa juga pakai seragam ke kantor?”, tanya Sandro. “Karena tak ada yang perlu menunjukan pakaian yang lebih mahal, atau merk yang tak terjangkau orang berpendapatan menengah ke bawah”, jawab ayahnya seakan berbicara dengan salah satu mahasiswa ekonomi yang memahami kalsifikasi merk dan pendapatan. “Kalau kita berpendapatan apa ayah?”, tanya Sandro cukup serius. Sambil tersenyum simpul, ayahnya mulai menjawab begitu lembut, “kita berpendapatan secukupnya, artinya kita bisa makan tiga kali sehari, dan bisa ke gereja tiap hari Minggu untuk berdoa dan kolekte”, jawab ayahnya yang sedang mengendarai mobil.
Jawaban Pak Rafi di mobil tadi masih belum memuaskan Sandro. Lonceng tanda istirahat pun berbunyi, Sandro langsung menghampiri ibu gurunya, “bu, saya mau tanya sesuatu yang di luar pelajaran IPA”. Setelah kurang lebih lima detik menatap Sandro keheranan, ibu Yeni melanjutkan kerjaannya di kelas. “Setelah ibu jawab, kamu pergi jajan dan jangan lupa singgah toilet, ibu tidak mau pelajaran selanjutnya ada yang ijin”. “Ibu, kenapa saya, bu guru, bapa saya, pak polisi, dan perawat harus memakai seragam bu?”, tanya Sandro. Ibu pun langsung menghentikan pekerjaannya dan terdiam menatap Sandro dengan bingung. “Pertanyaan saya salah yah bu?”, tanya Sandro cukup kecewa. “Tidak, sama sekali tidak Sandro, malahan ibu senang”, kata bu Yeny dengan senyum keibuannya. “Seragam itu sebagai identitas kita, buktinya seragam kita beda. Sandro dan bu guru seragamnya beda, bu guru dengan pak polisi juga berbeda”, jelas bu Yeni singkat. “Tapi bu guru dan bapa saya seragamnya sama, padahal bu Yeni kan guru, bapa saya PNS ”. Sambil tersenyum membalas jawaban Sandro, bu Yeni lebih tenang mengatakan, “bapa kamu dan bu guru itu sama-sama PNS, cuman bapa kamu kerjanya di kantor, ibu di sekolah”.
Sandro pulang sekolah dengan bingung. Dua orang yang berseragam sama memiliki jawaban yang berbeda untuk pertanyaan yang sama. Tepat pukul dua siang, pak rafi telah menunggu Sandro di gerbang sekolah. “Bapa, saya masih bingung”, ungkap Sandro sesampainya di dalam mobil. “Kata bu Yeni, Seragam itu untuk menunjukan identitasnya, tapi kata bapa tadi, seragam itu untuk menghindari orang kaya pamer baju mahal”. “Selamat siang bapa”, kata pak Rafi mengingatkan kalo kesantunan tetap dipertahankan sekalipun ada hal yang lebih mendesak. “heheheee, siang bapaku”, balas Sandro dengan senyum lebar. “Atau mungkin, tujuaannya sebagai tanda pengenal sekaligus menyelamtakan perasaan orang-orang berpendapatan menengah ke bawah”, Sandro tak memberi jedah sedikitpun pada Aayahnya untuk menanyakan kondisi perutnya. Pak Rafi hanya tersenyum dan sesekali melirik Sandro yang sedang menganalisis tujuan seragam. “Kaka sudah ketemu jawabannya, masih pikir apa lagi? Itu sudah benar, bapa lupa jelaskan tujuan seragam sebagai tanda pengenal”, kata pak Rafi setelah beberapa menit berlalu tanpa obrolan.
Rutinitas yang sama di akhir pecan, Sandro ke sekolah, ayah ke Kantor, mereka kembali dalam perjalanan singkat bersama pada Sabtu itu. “Pagi bapa, saya mau tanya sesuatu tentang seragam lagi”, Sandro membuka percakapan. “Pagi kaka, silahkan”, balas Pak Rafi dengan senyum pamungkasnya. Senyum yang membuat kita merasa nyaman untuk bertanya maupun menjawab. “Kalau benar fungsi seragam itu seperti dijelaskan bapa dan bu Yeni, kenapa om Anis seragamnya lebih kumal dari bapa? Satu lagi, lalu om Viktor kenapa tidak ada seragam? Apakah tukang diperbolehkan pamer kekayaan?”, tanya Sandro dengan membanding seragam sopir kantor pak Rafi dan tukang bangunan langganan mereka. Ayahnya kemudian memelankan mobil, kemudian mengambil dompet dan memberikannya pada Sandro. “Bapa adalah bosnya om Anis, bapa juga bosnya om Viktor, tapi coba buka dompet bapa?” jelas Pak Rafi seakan siap memberi pertanggungjawaban ilmiah tentang fillosofi seragam. Setelah dibuka, isi dompet pak Rafi sama dengan uang jajan Sandro di saku celana, sepuluh ribu rupiah. “Seragam, pendapatan, bahkan jenis pekerjaan itu bukanlah yang paling penting. Seberapa hebat kita melakukan pekerjaan kita adalah yang utama. Makanya bapa sering meminta Sandro rajin belajar, karena kaka sekarang tugasnya belajar. Itulah kenapa om Anis tidak mau beli seragam baru, om Viktor tidak mau pakai seragam, tapi lihat betapa tanggungjawabnya mereka dalam bekerja. Itulah yang paling penting”. Penjelasan telah memuaskan rasa penasaran Sandro. “Tapi, penjelasan bapa masih belum membuat kaka mengerti kenapa kita harus berseragam, kalau Sandro sudah mengerti, kaka pasti akan mengerti apa yang bapa maksudkan”. Obrolan itu ditutup dengan kerendahan hati Pak Rafi, mengingat penjelasannya tak mampu dijangkau anak sekolah dasar kelas tiga. “Terima kasih bapa”.
Percakapan singkat dua puluh tahun lalu tak bisa dibuktikan kebenarannya. Matahari selalu terbit di timur, peradaban terus terjadi, kita semua berubah. Ahli moral terus bertambah, perhitungan mereka semakin kompleks, profesi, jabatan, pendapatan, dan kali ini ditambah dengan agama dan suku. Variabel-variabel control lainnya terus bertambah untuk mengukur seberapa besar mereka akan menghargai manusia. Di kota yang sama, Sandro masih terpojok dengan kenyataan, terus bertanya apa jadinya dunia kalau kita semua bisa melihat apa yang ayahnya bisa lihat. Masih di kota yang sama, ‘kota kasih’ dan Sandro terus menua. Tidak peduli seberapa besar orang menghargaimu, matahari selalu terbenam di barat, Sandro tetap menjadi dirinya.
Entah kenapa, saya tiba-tiba teringat pepatah kuno dalam Bahasa Latin, ‘Fortis Fortuna Adiuvat’. Keberuntungan berpihak pada orang yang kuat, kurang lebih begitulah artinya, hal yang sama juga yang saya lihat pada pak Rafi dan Sandro. Ungkapan kuno itu juga mampu menjekaskan siapa mereka sebenarnya. Ayah apakah saya harus jadi orang kuat ? Sandro menatap foto Ayah yang bisu di dinding ruang keluarga.Bening putih basahi pipi Sandro hatinya remuk mengenang ayah yang tak pernah merasa sebagai orang kuat.
]]>Maria Th.Roslin S.Lana

“Kenapa tugas sekolah bertambah banyak pak? Bukankah ini hanya perpindahan tempat belajar?,” tanya Odil cukup tegas. “Terima kasih untuk pertanyaan yang kritis Odil, bapak juga tidak senang memberi tugas yang sangat banyak, bukan karena bapak malas memeriksanya, tapi ini semua karena kita tidak bisa bertatap muka untuk jangka waktu yang tidak ditentukan. Jadi kalian akan belajar mandiri melalui tugas-tugas yang diberikan. Jujur, bapak cemburu dengan tugas kalian, bapak harap wabah ini segera berakhir agar bapak bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan kalian untuk belajar, bukannya tugas”. Penjelasan singkat Bapak Ardus ditutup dengan tawa peserta didik kelas tujuh. “Masih ada lagi yang perlu ditanyakan?” Suara Pak guru menghentikan tawa di kelas serta diikuti hening.
“Tidak pak”, jawab teman sekelas Odil dengan tegas dan begitu jelas. Begitulah hari terakhir di kelas Matematika SMPN 13 Kota Kupang. Tugas betambah banyak, tatap muka dikurangi, tawa para peserta didik, gurauan santun guru, singkatnya sekolah akan berubah menjadi kantor, bukan tempat belajar lagi.
Teriknya matahari siang itu tak bisa mengalahkan rasa dibalik frasa “belajar di rumah”. Raut wajah setelah pengumuman dengan ide pokok “belajar di rumah” mampu menjelaskan definisi ‘manusia adalah subjek yang bebas’, Aristoteles. Senyum, canda, dan tawa adalah hal yang menemani Odil dan teman-temannya pulang ke rumah. Senyum mereka kemudian berganti pesan rindu yang melesat tajam lewat perpisahan sederhana di persimpangan jalan. “Semoga kita cepat bertemu di kelas lagi”, spontan kalimat itu keluar dari Odil. ‘hahahahahahaaa….’ Nadia dan Sonya pun hanya membalasnya dengan tawa bahagia seolah rindu itu cuman candaan. Inilah awal kisah seorang peserta didik berprestasi memperjuangkan masa depan dengan status belajar mandiri.
Piagam penghargaan dan piala sebagai cendramata dari Odil untuk sekolahnya dapat menjelaskan bahwa tugas sekolah bukanlah hal yang menantang. Tugas demi tugas ia kerjakan tepat waktu tanpa keluhan sedikitpun. Kecemasan orangtua Odil berbeda dengan orangtua lainnya. Mereka takut Odil menjadi orang yang tertutup dan tidak mampu mengasah kecerdasaan sosialnya. Kegelisahan mereka bertambah saat Odil lebih banyak menghabiskan waktu dengan handphone. Karena hanya itulah satu-satunya cara mereka menaklukan jarak. Banyaknya tugas membuat Odil memiliki sedikit waktu bersama keluarga. Odil sekarang berstatus peserta didik dan berteman handphone. Sekalipun handphone hanya sebagai media, tapi nyatanya dia bertatap muka dengan kecerdasaan buatan. Odil membantu Nadia dan Sonya menyelesaikan tugas sekolah lewat handphone. Kini rindu bukanlah candaan saja, itulah yang terlihat dari cara Nadia dan Sonya mengungkapkan rindu yang begitu lugas, “kapan kita bisa kumpul-kumpul?”.
Tugas demi tugas yang berdatangan bersamaan dengan keluhan dari peserta didik dan orangtuanya. Nadia dan Sonya pun kini lebih sering mencibir tugas sekolah daripada mendiskusikannya dengan Odil. “Kalo tau kayak gini, mendingan kita sekolah saja”, ungkap Sonya dengan lemas saat video call bersama Nadia dan Sonya. “Kayaknya Pak Ardus tidak bisa cemburu lagi”, tambah Sonya diikuti oleh tawa mereka. “Ayo buruan, tersisa beberapa nomor saja, biar kita bisa nyantai”, suara Odil memecah tawa mereka. Ajakan itu sangat menyiksa kesenangan mereka. “Tugas sekolah bisa membunuh”, begitulah cara Odil mengangkat bendera putih pada semangat guru mendidik anak melalui tugas sekolah. Serentak mata Nadia dan Sonya pun membesar, “Seorang Odil lho”, kata Nadia. “Tuhan, semoga wabah ini cepat berlalu sebelum kita bertambah gila”, doa spontan Sonya akhirnya membuat Odil mampu tertawa.
Dua minggu berlalu dengan tugas, sekolah yang dulu dibenci kini menjadi satu-satunya yang dirindukan oleh peserta didik. Orangtua dan anak-anak ingin segera mengakhiri keluhan mereka terhadap tugas, masuk sekolah adalah satu-satunya solusi. Ketika pelajar, guru, dan orangtua berdiri di puncak kejenuhan, para pejuang covid semakin lantang meneriakan slogan “di rumah saja”. Hal ini semakin dipersulit dengan warta hoax yang lebih cendrung menakuti daripada menyembuhkan. Kalangan medis mengklaim “Physical Distancing” adalah solusi dari pandemi Covid-19, sedangkan bagi kalangan akademisi, “tetap di rumah saja” adalah pandemi dalam dunia edukasi. Pada saat yang bersamaan, new normal semakin marak diperbincangkansebagai pemecah segala pandemic. Physical distancing perlu diseimbangkan dengan social-orientation, kurang lebih, itulah tujuan new normal.
Setelah genap satu bulan, kini rindu lebih sering menyerang pak Ardus. Setiap kali dia piket, kata rindu diekpresikannya dengan cara yang bervariasi, mulai dari kelakar, keluhan, sampai pada level diskusi ilmiah. “Ada rumor kalau kelas tanpa suara selama satu bulan itu pemali”, ungkap pak ardus dibarengi tawa. “Saya punya teori baru yang belum punya persamaan regresinya, lebih baik mengeluhkan kegaduhan kenakalan perta didik daripada mengeluhkan kelas yang hanya terisi kenangan, karena keluhan terakhir adalah ciri-ciri orang gila”, kali ini tawa mereka lebih nyaring dari sebelumnya. Rindu memang membuat orang menjadi egois. Siang itu, pak Ardus menguasai percakapan di depan meja piket. Tak ada yang mampu menjedah monolog pak Ardus. Semuanya sangat menikmati cara pak Ardus mengekspresikan keresahannya. Tetapi saya berani menjamin kalau kerinduaan guru Matematika itu lebih besar dari yang diekspresikannya. Kalian akan setuju dengan saya kalau saja kalian dapat melihat raut wajahnya ketika menutup gerbang sekolah.
Pada hari yang sama, dua jam sebelum sunset, Pak Ardus menerima pesan Whatsapp dari pesrta didik yang terakhir kali bertanya padanya. ‘Selamat sore pak, bagaimana kabarnya?’, isi oborolan dari kontak bernama Odil. Pak Ardus masih menatap handphone-nya selama lima menit, namun tak pertanyaan lanjutan. Pak Ardus cukup bingung, Odil biasanya menanyakan tentang tugas sekolah atau menceritakan pendapatnya tentang pelajaran atau buku apapun yang dia baca. Pak Ardus memutuskan untuk menelpon Odil sebagai cara keluar dari kebingungan. “Halo Odil, selamat sore, Puji Tuhan bapak baik-baik saja. Bagaimana kabar Odil?”, kata pak Ardus membuka percakapan setelah Odil menerima telpon. “Halo pak Ardus, syukurlah kalau begitu, Puji Tuhan, kami sekeluarga baik-baik saja pak”, jawab Odil. “Kayaknya ada sesuatu, soalnya baru pertama Odil puasa diskusi tentang mata pelajaran”, kata pak Ardus seolah tahu segalanya dilengkapi dengan sentuhan humor. “hahahahaaa, tidak kok pak, saya hanya ingat pak guru saja, makanya mau tanya kabar”, jawab Odil diikuti keheningan. Selebihnya percakapan mereka tak ada kaitan dengan sekolah atau apapun yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Sore itu seorang guru dan peserta didik saling mengekspresikan kerinduan mereka.
“Pak, kapan sebenarnya kita bisa ke sekolah lagi? Pengen selfi pake seragam dengan latar belakang papan tulis soalnya, hahahaaa….”, Odil coba memulai percakapan lagi. Pertanyaan itu sangat jelas bukan berkaitan dengan kebutuhan informasi di era digital ini. Odil hanya ingin bertanya apakah aturan bisa bertoleransi dengan kejenuhannya. “Welcome back Odil, kalo yang suka matematika biasanya lebih cepat kangen papan tulis, hahahaa…” jawab pak Ardus yang sarat makna. Kedekatan peserta didik dan guru membuat mereka dapat saling memahami secara emosional. “Pak, apakah saya yang terlalu radikal atau fanatik sama pelajaran ? entalah, tapi kalau tidak ke sekolah itu rasanya aneh pak, tugas tanpa guru rasanya itu tidak lengkap”, Odil kali ini lebih polos berekspresi. “Ia Odil, itulah kenapa di Indonesia kita sebut bapak/ibu guru, bukannya pengajar. Kalo di mata dunia mereka hanya menyebut teacher, lebih dari itu, kita adalah keluarga yang lebih serius dengan buku, hahahaaa….” Tanpa sadar Pak Ardus sekarang mencurahkan kegelisahaan pada anak didik-nya. “Syukurlah pak, selama ini saya kira saya sedang berziarah dari gelar prestasi menuju prestise, hahahaaa…”. “Tetap jadi versi terbaik dirimu ya Odil, kita sekarang hanya bisa saling mendoakan, jarak ini bisa menguatkan kita, bukannya membuat kita jadi kenangan”, suara pak Ardus sangat tulus terdengar saat memotong tawa Odil. “Pak, tolong ajarin saya mengubah rumus matematika menjadi prosa, bapak terdengar sangat puitis sore ini”, Odil memecah keheningan singkat. “hahahahahaaaa…” keduanya kali ini terlihat kompak.
Magrib diiringi oleh obrolan jenaka mereka. Topiknya selalu tidak konsisten, yang stabil saat itu hanya kekompakan tertawa dan durasi menelpon yang direkam oleh android masing-masing. Di kota yang sama, kelas-kelas masih saja kosong, sekolah lebih cocok disebut kantor daripada tempat belajar, slogan “di rumah saja” bertarung dengan berbagai kerinduan, dan kaum medis yang terus bertarung melawan pandemi virus corona. Percakapan mereka kemudian harus berhenti saat bunyi alarm Doa Angelus didampingi suara adzan maghrib. “Pak, terima kasih pak”, suara Odil lebih nyaring terdengar dari suara lainnya saat itu. “Terima kasih juga Odil, Tuhan memberkati kita semua”, balas pak Ardus berselang beberapa detik merefleksikan arti terima kasih seorang anak.
]]>