Minggu, 15-02-2026
  • " Terwujudnya Peserta Didik yang Beriman, dan Bertaqwa, Berkebhinekaan Global, Bergotong Royong, Mandiri, Bernalar Kritis, dan Kreatif " " Terwujudnya Peserta Didik yang Beriman, dan Bertaqwa, Berkebhinekaan Global, Bergotong Royong, Mandiri, Bernalar Kritis, dan Kreatif " " Terwujudnya Peserta Didik yang Beriman, dan Bertaqwa, Berkebhinekaan Global, Bergotong Royong, Mandiri, Bernalar Kritis, dan Kreatif " " Terwujudnya Peserta Didik yang Beriman, dan Bertaqwa, Berkebhinekaan Global, Bergotong Royong, Mandiri, Bernalar Kritis, dan Kreatif " " Terwujudnya Peserta Didik yang Beriman, dan Bertaqwa, Berkebhinekaan Global, Bergotong Royong, Mandiri, Bernalar Kritis, dan Kreatif "
  • " Terwujudnya Peserta Didik yang Beriman, dan Bertaqwa, Berkebhinekaan Global, Bergotong Royong, Mandiri, Bernalar Kritis, dan Kreatif " " Terwujudnya Peserta Didik yang Beriman, dan Bertaqwa, Berkebhinekaan Global, Bergotong Royong, Mandiri, Bernalar Kritis, dan Kreatif " " Terwujudnya Peserta Didik yang Beriman, dan Bertaqwa, Berkebhinekaan Global, Bergotong Royong, Mandiri, Bernalar Kritis, dan Kreatif " " Terwujudnya Peserta Didik yang Beriman, dan Bertaqwa, Berkebhinekaan Global, Bergotong Royong, Mandiri, Bernalar Kritis, dan Kreatif " " Terwujudnya Peserta Didik yang Beriman, dan Bertaqwa, Berkebhinekaan Global, Bergotong Royong, Mandiri, Bernalar Kritis, dan Kreatif "

Pesan Cinta Ayah  

Diterbitkan : Kamis, 19 Oktober 2023

               

Maria Th.Roslin S.Lana

Jauh sebelum pandemic corona, setiap matahari terbit, doa, permohonan, dan impian selalu menjadi teman terbaik seorang pria paruh baya. Jauh sebelum konsep new normal lahir, doa, harapan, dan impiannya pria itu dedikasikan kepada keluarga kecilnya. Jauh sebelum saya mulai menulis ini, dia yang kusapa ayah, tak lebih dari kenagan dan inspirasi, hubungan kami paling intim saat ini adalah saling mendoakan, selebihnya, entalah.

Pada saat yang bersamaan, banyak para ahli matematika moral yang selalu mempertanyakan pekerjaan, jabatan, penghasilan, dan umur hanya untuk menghitung seberapa besar penghormatan yang akan diberikan kepada objek yang ditanya. Itulah kita, manusia yang selalu mempersoalkan homo sapiens. Pada planet yang sama, saya terpojok oleh realita, bahwa saya tak punya apa yang diinginkan peradaban zaman sekarang. Detik-detik itu kemudian tiba-tiba muncul kembali dalam ingatan saya, percakapan anak berusia delapan tahun bersama ayahnya.

“Bapa, kenapa bapa juga pakai seragam ke kantor?”, tanya Sandro. “Karena tak ada yang perlu menunjukan pakaian yang lebih mahal, atau merk yang tak terjangkau orang berpendapatan menengah ke bawah”, jawab ayahnya seakan berbicara dengan salah satu mahasiswa ekonomi yang memahami kalsifikasi merk dan pendapatan. “Kalau kita berpendapatan apa ayah?”, tanya Sandro cukup serius. Sambil tersenyum simpul, ayahnya mulai menjawab begitu lembut, “kita berpendapatan secukupnya, artinya kita bisa makan tiga kali sehari, dan bisa ke gereja tiap hari Minggu untuk berdoa dan kolekte”, jawab ayahnya yang sedang mengendarai mobil.

Jawaban Pak Rafi di mobil tadi masih belum memuaskan Sandro. Lonceng tanda istirahat pun berbunyi, Sandro langsung menghampiri ibu gurunya, “bu, saya mau tanya sesuatu yang di luar pelajaran IPA”. Setelah kurang lebih lima detik menatap Sandro keheranan, ibu Yeni melanjutkan kerjaannya di kelas. “Setelah ibu jawab, kamu pergi jajan dan jangan lupa singgah toilet, ibu tidak mau pelajaran selanjutnya ada yang ijin”. “Ibu, kenapa saya, bu guru, bapa saya, pak polisi, dan perawat harus memakai seragam bu?”, tanya Sandro. Ibu pun langsung menghentikan pekerjaannya dan terdiam menatap Sandro dengan bingung. “Pertanyaan saya salah yah bu?”, tanya Sandro cukup kecewa. “Tidak, sama sekali tidak Sandro, malahan ibu senang”, kata bu Yeny dengan senyum keibuannya. “Seragam itu sebagai identitas kita, buktinya seragam kita beda. Sandro dan bu guru seragamnya beda, bu guru dengan pak polisi juga berbeda”, jelas bu Yeni singkat. “Tapi bu guru dan bapa saya seragamnya sama, padahal bu Yeni kan guru, bapa saya PNS ”. Sambil tersenyum membalas jawaban Sandro, bu Yeni lebih tenang mengatakan, “bapa kamu dan bu guru itu sama-sama PNS, cuman bapa kamu kerjanya di kantor, ibu di sekolah”.

Sandro pulang sekolah dengan bingung. Dua orang yang berseragam sama memiliki jawaban yang berbeda untuk pertanyaan yang sama. Tepat pukul dua siang, pak rafi telah menunggu Sandro di gerbang sekolah. “Bapa, saya masih bingung”, ungkap Sandro sesampainya di dalam mobil. “Kata bu Yeni, Seragam itu untuk menunjukan identitasnya, tapi kata bapa tadi, seragam itu untuk menghindari orang kaya pamer baju mahal”. “Selamat siang bapa”, kata pak Rafi mengingatkan kalo kesantunan tetap dipertahankan sekalipun ada hal yang lebih mendesak. “heheheee, siang bapaku”, balas Sandro dengan senyum lebar. “Atau mungkin, tujuaannya sebagai tanda pengenal sekaligus menyelamtakan perasaan orang-orang berpendapatan menengah ke bawah”, Sandro tak memberi jedah sedikitpun pada Aayahnya untuk menanyakan kondisi perutnya. Pak Rafi hanya tersenyum dan sesekali melirik Sandro yang sedang menganalisis tujuan seragam. “Kaka sudah ketemu jawabannya, masih pikir apa lagi? Itu sudah benar, bapa lupa jelaskan tujuan seragam sebagai tanda pengenal”, kata pak Rafi setelah beberapa menit berlalu tanpa obrolan.

Rutinitas yang sama di akhir pecan, Sandro ke sekolah, ayah ke Kantor, mereka kembali dalam perjalanan singkat bersama pada Sabtu itu. “Pagi bapa, saya mau tanya sesuatu tentang seragam lagi”, Sandro membuka percakapan. “Pagi kaka, silahkan”, balas Pak Rafi dengan senyum pamungkasnya. Senyum yang membuat kita merasa nyaman untuk bertanya maupun menjawab. “Kalau benar fungsi seragam itu seperti dijelaskan bapa dan bu Yeni, kenapa om Anis seragamnya lebih kumal dari bapa? Satu lagi, lalu om Viktor kenapa tidak ada seragam? Apakah tukang diperbolehkan pamer kekayaan?”, tanya Sandro dengan membanding seragam sopir kantor pak Rafi dan tukang bangunan langganan mereka. Ayahnya kemudian memelankan mobil, kemudian mengambil dompet dan memberikannya pada Sandro. “Bapa adalah bosnya om Anis, bapa juga bosnya om Viktor, tapi coba buka dompet bapa?” jelas Pak Rafi seakan siap memberi pertanggungjawaban ilmiah tentang fillosofi seragam. Setelah dibuka, isi dompet pak Rafi sama dengan uang jajan Sandro di saku celana, sepuluh ribu rupiah. “Seragam, pendapatan, bahkan jenis pekerjaan itu bukanlah yang paling penting. Seberapa hebat kita melakukan pekerjaan kita adalah yang utama. Makanya bapa sering meminta Sandro rajin belajar, karena kaka sekarang tugasnya belajar. Itulah kenapa om Anis tidak mau beli seragam baru, om Viktor tidak mau pakai seragam, tapi lihat betapa tanggungjawabnya mereka dalam bekerja. Itulah yang paling penting”. Penjelasan telah memuaskan rasa penasaran Sandro. “Tapi, penjelasan bapa masih belum membuat kaka mengerti kenapa kita harus berseragam, kalau Sandro sudah mengerti, kaka pasti akan mengerti apa yang bapa maksudkan”. Obrolan itu ditutup dengan kerendahan hati Pak Rafi, mengingat penjelasannya tak mampu dijangkau anak sekolah dasar kelas tiga. “Terima kasih bapa”.

Percakapan singkat dua puluh tahun lalu tak bisa dibuktikan kebenarannya. Matahari selalu terbit di timur, peradaban terus terjadi, kita semua berubah. Ahli moral terus bertambah, perhitungan mereka semakin kompleks, profesi, jabatan, pendapatan, dan kali ini ditambah dengan agama dan suku. Variabel-variabel control lainnya terus bertambah untuk mengukur seberapa besar mereka akan menghargai manusia. Di kota yang sama, Sandro masih terpojok dengan kenyataan, terus bertanya apa jadinya dunia kalau kita semua bisa melihat apa yang ayahnya bisa lihat. Masih di kota yang sama, ‘kota kasih’ dan Sandro terus menua. Tidak peduli seberapa besar orang menghargaimu, matahari selalu terbenam di barat, Sandro tetap menjadi dirinya.

Entah kenapa, saya tiba-tiba teringat pepatah kuno dalam Bahasa Latin, ‘Fortis Fortuna Adiuvat’. Keberuntungan berpihak pada orang yang kuat, kurang lebih begitulah artinya, hal yang sama juga yang saya lihat pada pak Rafi dan Sandro. Ungkapan kuno itu juga mampu menjekaskan siapa mereka sebenarnya. Ayah apakah saya harus jadi orang kuat ? Sandro menatap foto Ayah yang bisu di dinding ruang keluarga.Bening putih basahi pipi Sandro hatinya remuk mengenang ayah yang tak pernah merasa sebagai orang kuat.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan

Penulis : spenlakupang.sch.id

Tulisan Lainnya

Oleh : spenlakupang.sch.id

Bertarung Bersama Pandemi

Oleh : spenlakupang.sch.id

Kursi Kosong

Oleh : spenlakupang.sch.id

JEJAK DI HALAMAN WAKTU

Oleh : spenlakupang.sch.id

LANGKAH KAMI, KENANGAN KITA.

Archives

Info cepat

Lorem ipsum dolor sit amet, the administration of justice, I may hear, finally, be expanded on, say, a certain pro cu neglegentur. Mazim.Unusual or something.

2130 Fulton Street, San Francisco
support@test.com
+(15) 94117-1080

Pengumuman Sekolah